Beurujuk.com | Dari 23 buah kabupaten/kota yang terdapat di Aceh, salah satu wilayah yang bentangan alamnya agak komplek, yaitu Kabupaten Aceh Singkil.
Wilayah kabupaten yang berjuluk nagari Syekh Abdurrauf ini, terdiri dari pengunungan, daerah pesisir, dan daerah kepulauan.
Tidak itu saja, vegetasi alamnya juga, berada di daerah aliran sungai, rawa gambut berair tawar, dan hutan tropis berdataran rendah.
Karenanya tak mengherankan, jika kita “berpertualang” menelusuri daerah Aceh Singkil, terutama di bentaran daerah aliran sungai (DAS), pasti kita menemukan banyak tumbuh dan merimbun pohon sagu yang bahasa latinnya disebut metroxylon sagu.
Pohon jenis palem atau acap juga orang mengatakan pohon rumbiah, umumnya di Aceh Singkil, tumbuh secara liar, tak berpunya. Kalau pun ada yang sengaja menanam dan memelihara, populasinya pun tak seberapa.
Jika ditelisik dan diamati, pohon penghasil karbohidrat paling produktif ini, ternyata manfaatnya luar biasa. Ia tergolong jenis tanaman serba guna. Nyaris semua bagian pohonnya bisa dimanfaatkan.
Daunnya, bisa dijadikan atap rumah. Lidinya bisa untuk sapu. Kulit dari batang dan pelepah bisa dibuat papan. Urat dan bonggolnya bisa penghalang banjir. Dan seratnya, dapat dibuat menjadi tali. Termasuk buahnya, enak dimakan setelah dicecah dengan garam yang dilumuri cabai.
Sedangkan empulur atau isi dari batang, bisa diolah menjadi tepung (patih) sagu. Dan tepung ini sangat cocok digunakan sebagai bahan baku pembuat beraneka ragam kue.
Dulu di Aceh Singkil, tepung sagu acap dibuat penganan berbuka puasa dan makanan snack hari-hari lainnya, seperti getuk, onde-onde, lepat, godok-godok sagu, rendang sagu, lompong, dan lempeng.
Tidak itu saja, apabila musim kemarau dan bulan Ramadhan seperti ini, rumah tangga di Aceh Singkil lazim pula membuat cendol. Masyarakat setempat menamainya dengan gudi-gudi. Ada juga yang menyebutnya cendol atau minuman biji delima.
Cendol atau gudi-gudi biji delima ini, sangat nikmat jika disantap sehabis bekerja di panas terik atau saat buka puasa. Apalagi dicampur es batu. Wah, rasa nikmatnya, sampai ke tulang sumsum.
Tak jarang pula, tepung sagu ini, dibuat celo. Celo sangat enak dimakan dengan sayur urap, sambal ikan goreng lado dengan cabe rawit dan kuah gulai ikan lele (limbek), ikan gabus dan ikan sungai lainnya. Apalagi jika dikonsumsi di bulan puasa. Bisa memantik selera makan kita.
Namun, sekarang ketika gaya hidup masyarakat Aceh Singkil telah berubah, mulai terasuki westernisasi dan diserbu budaya instant serta kecenderungan makan dari bahan lain lebih dominan.
Membuat kudapan dari bahan sagu tadi, seperti lompong, lepat, lempeng, getuk, rendang sagu, cendol gudi-gudi atau biji delima, dan celo mulai susah dicari.
Apalagi di bulan Ramadhan ini untuk kudapan berbuka puasa. Penganan semacam ini, telah “raib ditelan bumi”, tergusur, dan terkesampingkan. Kalaupun ada, sudah termasuk kuliner langka dan jenis pun tidak seberapa.
Penganan dari sagu ini, telah identik dengan makanan orang miskin dan kampungan. Bahkan ada yang menyinyalir bahwa makanan dari sagu hanya layak dikonsumsi hewan ternak.
Akibatnya, banyak di antara warga Aceh Singkil, terutama generasi mudanya yang tak mengenal penganan dari sagu. Mereka pun dipastikan tidak piawai dan terampil meracik resep dan memasaknya.
Padahal, kuliner dari sagu ini sebenarnya, bisa menjadi makanan bergengsi dan tak kalah hebat apabila dan diolah dan dimodifikasi sedemikian rupa dengan berbagai cita rasa.
Apalagi dikemas dan disuguhkan secara baik, profesional, dan kualitasnya dijaga. Karena sagu ini, kaya dengan kandungan kalori, amilosa, amilopektin, karbohidrat, protein, dan lemak.
Bagi warga Aceh Singkil terutama yang tinggal di pedesaan, penganan ini, dulu telah dijadikan kudapan warisan budaya yang dikonsumsi secara turun temurun.
Karena itu tidak ada cara lain, makanan dari bahan sagu harus kembali kita lestarikan, galakan dan masyarakatkan. Ini demi memanfaatkan potensi alam yang ada dan memenuhi selera kuliner “kearifan lokal” (local wisdom).
Terlebih lagi, untuk menjaga keanekaragaman pangan, membebaskan Aceh Singkil dari rawan pangan, dan mengurangi ketergantungan kita pada beras. Nah, tunggu apa lagi. Bergegaslah! [aceHTrend]
No comments:
Write comments